Selasa, 13 Desember 2011

Kisah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi


     Hasutan sang paderi 

     Jerussalem merupakan kota suci bagi ketiga-tiga agama samawi yakni islam, yahudi, dan kristian. di dalam kota inilah letaknya masjid Al-Aqsa yang di bangun oleh Nabi Sulaiman dan menjadi kiblat pertama umat islam sebelum beralih ke baitullah di Makkah. Ketika Nabi Muhammad Isra', singgah dan solat di masjid ini sebelum Mi'raj ke langit. Nabi Isa as juga dilahirkan di baitullaham berdekatan kota Jarussalam ini.
     Diwaktu pemerintahan khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M) Jerussalam dapat direbut oleh kaum Muslimin dalam suatu penyerahan kuasa secara damai. Khalifah Umar sendiri datang ke Jerussalem untuk menerima penyerahan kota suci itu atas desakan dan persetujuan Uskup Agung sophronius.
     Berabad abad lamanya kota itu berada di bawah pentabiran islam, tetapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang kristian dari seluruh dunia juga bebas untuk mengerjakan haji di kota suci itu dan mengadakan upacara keagamaannya. Orang-orang kristian dari Eropa datang mengerjakan haji datang mengerjakan haji dalam jumlah yang besar dengan membawa obor dan pedang seperti tentara. Sebagian dari mereka mepermainkan pedang dengan dikelilingi pasukan gendang dan seruling dan diiringkan pula oleh pasukan bersenjata lengkap.
     Sebelum Jerussalem ditabdir kerajaan seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat islam, karena dasar toleransi agama. Akan tetapi apabila kerajaan seljuk memerintah, Upacara seperti itu tidak dibenarkan, dengan alasan keselamatan. Mungkin karena upacara tersebut semakin berbahaya.
     Tahun 1064 ketua Uskup memimpin pasukan seramai 7000 orang jemaah haji yang terdiri dari kumpulan Baron-baron dan para pahlawan telah menyerang orang-orang Arab dan orang-orang Turki. Itulah yang membimbangkan kerajaan seljuk. Jadi larangan itu demi keselamatan jemaah haji Kristian itu sendiri. Malangnya, tindakan seljuk itu menjadi salah anggapan oleh orang-orang Eropa. Ketua ketua agama mereka telah berkampanye bahwa kebebasan agamanya telah dicabuli oleh orang-orang islam dan menyerukan agar tanah suci itu dibebaskan dari genggaman umat islam.
     Patriach Ermite adalah paderi yang paling lantang dan bertungkus lumus mengapi-apikan kemarahan umat kristian. Dia asalnya seorang tentara, tapi kemudian menjadi paderi, berwatak kepala angin dan cepat marah. Dalam usahanya untuk menarik simpati umat kristian, Ermite telah berkeliling Eropa dengan mengendarai seekor keledai sambil memikul kayu salib besar, berkaki ayam, dan berpakaian compang-camping. Dia telah berpidato dihadapan orang ramai baik itu di gereja, di jalan jalan raya atau di pasar pasar. Dia menceritakan entah benar atau bohong kisah kunjungannya ke Baitul Maqdis.
     Katanya, dia melihat pencerobohan kesucian ke atas kuburan nabi Isa oleh kerajaan turki seljuk. Diceritakan bahwa jemaah haji kristian telah di hina, dizalimi dan dinista oleh orang orang islam di Jarussalem. Serentak dengan itu dia mengharuskan orang ramai agar bangkit menyertai perang untuk membebaskan Jarussalem dari tangan orang islam. Hasutan Ermite berhasil. Paus Urbanus II Mengumumkan ampunan seluruh dosa bagi yang besedia dengan suka rela mengikuti perang suci itu, sekalipun sebelumnya dia merupaka seorang perampok, pembunuh dan sebagainya. Maka keluarlah ribuan umat kristian untuk mengikuti perang dengan memikul senjata untuk menyertai perang suci. Mereka yang ingin mengikuti perang ini di perintahkan agar meletakan tanda salib di dadanya, oleh karena itu perang ini disebut perang salib.
     Paus Urbanus menetapkan tangga 15 Agustus 1095 bagi pemberangkatan tentara salib menuju timur tengah, tetapi kalangan biasa sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi setelah di janjikan dengan berbagai kebebasan, kemewahan dan habuan. Mereka mendesak Paderi Patriach Ermite agar berangkat meminpin mereka. Maka Ermite pun berangkat dengan  60.000 orang pasukan, kemudian disusul oleh kaum tani dari Jerman seramai 20.000, datang lagi 200.000 orang yang menjadikan jumlah keseluruhannya 300.000 orang laki-laki dan perempuan. Sepanjang perjalanan, mereka di izinkan merampok, memperkosa, berzina, mabuk-mabukan. setiap penduduk negeri yang dilaluinya selalu mengharapkan dan memberikan bantuan seperlunya. Akan tetapi sesampainya di Hungaria dan Bulgaria, sambutannya sangat dingin, menyebabkan pasukan salib yang sudah kekurangan makanan ini marah dan merampas harta benda penduduk. Penduduk di dua negri ini tidak tinggal diam.Walaupn mereka sama-sama beragama kristian, mereka tidak senang dan bertindak balas. terjadilah pertempuran sengit dan pembunuhan yang mengerikan. dari 300.000 orang pasukan salib itu hanya tersisa 7000 saja yang selamat sampai di semenanjung Thracia dibawah pimpinan sang Rahib.
     Sesampainya pasukan salib mendarat di pantai Asia kecil, pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Sultan Kalij Arselan telah menyambutnya dengan hayunan pedang, maka terjadilah pertempuran kembali antara kaum salib dengan pasukan islam yang berakhir dengan hancur binasa pasukan salib itu.


Kaum salib mengganas

     Setelah kaum salib yang dipimpin oleh rahib yang tidak tahu strategi perang itu musnah sama sekali, munculah pasukan salib yang dipimpin oleh anak-anak Raja Godfrey dari Lorraine Prancis, Bohemund dari Normandy dan Raymond dari Toulouse. Merka berkumpul di konstantinopel dengan kekuatan 150.000 prajurit, kemudian menyerang selat Bosfur dan melanggar wilayah islam bagaikan air bah.
Pasukan kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 50.000 orang bertahan mati-matian dibawah pimpinan Sultan Kalij Arselan.
     Satu persatu kota dan benteng kaum muslimin jatuh ke tangan kaum salib, memaksa Kalij Arselan mundur dari benteng satu ke benteng lainnya sambil menyusun kekuatan dan taktik baru. Bala bantuan kaum salib datang mencurah-curah dari negara negara Eropa. Sedangkan Kalij Arselan tidak dapat mengharap bantuan dari wilayah-wilayah yang lain, karena merka sibuk dengan kemelut negri masing masing.
     Setelah bertempur sekian lama, akhirnya kaum salib dapat maju dan mengepung Baitul Maqdis, tapi penduduk kota suci itu tidak mau menyerah kalah begitu saja. Mereka telah berjuang dengan jiwa dan raga mempertahankan kota suci itu selama satu bulan. Akhirnya pada 15 juli 1099, Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan salib, tercapailah cita cita mereka. Berlakulah keganasan yang luar biasa yang belum terjadi dalam sejarah umat manusia. kaum kafir kristian itu menyembelih penduduk orang islam lelaki perempuan dan anak-anak dengan sangat ganasnya. Mereka juga membantai orang orang yahudi dan orang-orang kristian yang tidak mau bergabung dengan kaum salib. keganasan kaum salib kristian yang sangat melalapaui batas itu telah di kutuk dan diperkatakan oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa.
     Seorang ahli sejarah Prancis, Michaud berkata: "Pada saat penaklukan Jarussalem oleh orang kristian tahun 1099, orang-orang islam di bantai di jalan jalan, di rumah-rumah. Jarussalem tidak punya tempat lagi bagi orang orang yang kalah itu. Beberapa orang coba melarikan diri dari kematian dengan cara mengendap-endap dari benteng, yang lain berkerumun di istinan dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun mereka tidak dapat menyembunyikan diri pengejaran orang orang Kristian itu. Tentara salib yang menjadi tuan di Masjid Umar, dimana orang-orang islam coba mempertahankan diri selama beberapa lama menambahkan lagi adegan-adegan yang menodai penanklukan Titus. Tentara infanteri dan kavaleri lari tunggang langgang diantara para buruan. Ditengah huru-hara yang mengerikan itu terdengar hany rintihan dan jeritan kematian. Orang-orang yang menang itu memijak-mijak tumpukan mayat ketika mereka lari mengejar orang yang coba menyelamatkan diri dengan sia-sia. Raymond d' Agiles yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri Mengatakan: "Dibawah serambi  masjid yang melengkung itu, genangan darah dalamnya mencapai lutut dan mencapai tali kekang kuda."
     Aksi pembantaian  hanya berhenti beberapa saat saja, yakni ketika pasukan salib itu berkumpul untuk menyatakan kesukuran di atas kemenagan mereka. Tapi sebaliknya upacara itu telah selesai, pembantaian diteruskan dengan lebih ganasn lagi.
     Seterusnya Michaud berkata: "Semua yang yang tertangkap yang disisakan dari pembantaian pertama, semua yang telah diselamatkan untuk mendapatkan upeti, dibantai dengan kejam. Orang-orang islam itu dipaksa terjun dari puncak menara dan atap-atap rumah, mereka dibakar hidup-hidup, di heret dari tempat persembunyian di bawah tanah, di heret ke depan umum dan dikurbankan di tiang gantungan. Air mata wanita, tangisan anak-anak, begitu juga pemandangan dari tempat yesus kristus memberikan ampun kepada para algojonya, sama sekali tidak dapat meredakan nafsu membunuh orang-orang yang menang itu.penyembelihan itu berlangsung selama seminggu. Beberapa yang dapat melarika diri, dimusnahkan atau dikurangkan bilangannya dengan penghambaan atau kerja paksa yang mengerikan."

Kemunculan panglima shalahuddin

     Jatuhnya kota suci Baitul Maqdis ketangan kaum salib telah mengejutkan para pemimpin islam mereka tidak menyangka kota suci yang telah dikuasainya selama lebih 500 tahun itu boleh terlepas dalam sekelip mata. Mereka sadar akan kesalahan mereka karena berpecah belah. Para ulama telah berbincang dengan para Sultan, Emir dan Khalifah agar simpati dengan perkara ini.
    Usaha mereka berhasil. setiap penguasa negara islam itu bersedia bergabung untuk merampas balik kota suci tersebut. Diantara pemimpin yang paling gigih dalam usaha menghalau tentara salib itu ialah Imamuddin Zanki dan diteruskan oleh anaknya Emir Nuruddin Zanki dengan di bantu oleh panglima Asasuddin syirkuh.
     Setelah hampir empat puluh tahun kaum salib menduduki Baitul Maqdis, Shalahuddin Al-Ayyubi baru lahir ke dunia, yakni pada tahun 1138 Masihi. Keluarga Salahuddin taat beragama dan berjiwa pahlawan. Ayahnya Najmuddin Ayyub adalah seorang yang termasyhur dan beliau pulalah yang memberikan pendidikan awal kepada Shalahuddin. selain itu, Shalahuddin juga mendapat pendidikan dari bapa saudaranya Asasudin Syirkuh seorang negarawan dan panglima perang Syria yang telah berhasil mengalahkan tentara salib yang ada di Syria ataupun Mesir. Dalam setiap peperangan yang di pimpin oleh panglima Asasuddin, Shalahuddin senantiasa ikut sebagai tentara pejuang sekalipun usianya masih muda.
     Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Asasuddin Syirkuh memimpin tentaranya merebut dan menguasai Damsyik. Shalahuddin yang ketika itu baru berusia 16 tahun turut serta sebagai pejuang. Pada tahun 558 H/ 1163 Masehi, Panglima Asasuddin membawa Shalahuddin Al-Ayyubiyang ketika itu berumur 25 tahun untuk menundukan Daulat Fatmiyah di Mesir yang di perintah oleh Aliran islam Syiah Ismailiyah yang semakin lemah. Usahanya berhasil. Khalifah Daulat Fatmiyah terakhir Adhid Lidinillah di paksa oleh Asasudin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian. Akan tetapi, Wazir besar Shawar melihat cemburu melihat Syirkuhsemakin populer dikalangan istana dan rakyat. Dengan diam-diam dia pergi ke Baitul Maqdis dan meminta dari pasukan salib untuk menghalau Syirkuh dari kekuasaan Mesir. Pasuka salib yang di pimpin oleh King Almeric dari Jarussalem menerima baik ajakan itu. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Asasuddin dengan King Almeric yang berakhir dengan kekalahan Asasudin. Setelah menerima syarat-syarat damai dari kaum salib, panglima Asasuddin dan Syalahuddin di perbolehkan pulang ke Damsyik.
    Kerjasama Wazir besar shawar dengan orang kafir  itu telah menimbulkan kemarahan Emir Nuruddin Zanki dan para pemimpin islam lainnya termasuk Baghdad. Lalu dipersiapkannya tentara yang besar yang tetap dipimpin oleh panglima Sirkuh dan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menghukum si penghianat Shawar. King Almeric teburu-buru menyiapkan pasukannya untuk melindungi Wazir shawar setelah mendengar kemarahan pasuka islam. Akan tetapi panglima Syirkuh kali ini bertindak lebih cepat dan berhasil membinasakan pasukan King Almeric dan menghalaunya dari bumi mesir dengan aib sekali.
     Panglima Syirkuh dan Shalahuddin terus maju ke ibukota kaherah dan mendapat tantangan dari pasukan Wazir Shawar. Akan tetapi pasukan Shawar hanya dapat bertahan sebentar saja, dia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Khalifah Al-Adhid Lidinillah terpaksa menerima dan menyambut kedatangan Panglima Syirkuh buat kedua kalinya. Suatu hari panglima Shalahuddin Al-Ayyubi berziarah ke kuburan seorang wali Allah di Mesir, ternyata Wazir Shawar dijumpai bersembunyi disitu. Shalahuddin segera menangkapnya dan dibawa ke istana dan dihukum mati. Khalifah Al-adhid melantik panglima Asasuddin syirkuh menjadi Wazir besar menggantikan Shawar.Wazir baru ini segera melakukan perbaikan dan pembersihan pada setiap institusi kerajaan secara berperingkat. Sementara anak saudaranya, Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi di perintahkan membawa pasukannya mengadakan pembersihan di kota-kota sepanjang sungai nil sehingga Assuhan di sebelah utara dan kota-kota lain termasuk kota perdagangan Iskandariah.

Menyatukan kekuatan Islam

     Walaupun sangat pintar dan bijak mengatur strategi dan berani di medan tempur, Salahudin berhati lembut, tidak mau menipu atasan demi kekuasaan dunia. Beliau tetap setia pada atasannya, tidak mau merampas kekuasaan untuk kepentingan pribadi. karena apa yang dikerjakannya selama ini hanya mencari peluang untuk menghalau tentara salib dari bumi Jarussalem. untuk tujuan ini, beliau berusaha menyatukan wilayah-wilayah Islam terlebih dahulu, kemudian menghapuskan para penghianat agama dan negara agar peristiwa Wazir Besar Shawar tidak terulang kembali.
     Di mesir, beliau telah berkuasa penuh, tetapi masih taat kepada pemimpinnya Nuruddin Zanki dan Khalifah di Baghdad. Tahun 1173 M. Emir Nuruddin Zanki wafat dan digantikan oleh putranya Ismail yang ketika itu baru berusia 11 tahun dan bergelar Mulk al Shalih. Para ulama dan pembesar menginginkan agar Emir Shalahuddin mengambil alih kekuasaan karena tidak suka dengan Mulk al Shalih karena selain lalai dalam tanggung jawab dia suka bersenang-senang. Akan tetapi Shalahuddin tetap setia dan mendoakan Mulk al Shaleh dalam setiap khutbah jumaat, bahkan mengabdikannya pada mata uang logam.
   
Perjuangan merebut Baitul Maqdis


     Setelah merasa kuat,Sultan Shalahuddin menumpukan perhatiannya untuk memusnahkan tentara salib yang menduduki Baitul Maqdis dan merebut kota itu kembali. Banyak rintangan yang dialami oleh Sultan Shalahuddin sebelum maksudnya tercapai. Siasat yang awalnya mengajak tentara salib berdamai, pada kenyataannya kaum salib memandang bahwa Shalahuddin telah menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong, Sultan Shalahuddin sudah menduga bahwa orang-orang kafir  kristian itu akan mengingkari perjanjiannya, maka ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan, untuk itu beliau telah mempersiapkannya.
     Ternyata memang betul, baru sebentar perjanjian di tandatangani, kaum salib telah melakukan pelanggaran. Maka Sultan Shalahuddin segera bergerak melakukan serangan, tapi kali ini gagal dan beliau sendiri hampir menjadi tawanan tentara salib, beliau kembali ke markasnya dan menyusun kekuatan yang lebih besar.
     Suatu kejadian yang mengejutkan Sultan dalam suasana perdamaian adalah tindakan seorang panglima salib Count Rainald de Chatillon yang bergerak dengan pasukannya untuk menyerang kota suci Mekkah dan Madinah. Akan tetapi pasukan itu hancur binasa digempur mujahidin Islam di Laut Merah dan Count Rainald dan sisa pasukannya kembali ke kota Jarussalem. Dalam perjalanannya, mereka berjumpa dengan satu iring-iringan kafilah kaum muslimin yang didalmnya terdapat seorang saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa pikir panjang, Count dan konco-konconya menyerang kafilah tersebut dan menyandera mereka termasuk saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Dengan angkuh Count berkata: "Apakah Muhammad, Nabi mereka itu mampu datang untuk menyelamatkan mereka?".
     Seorang anggota kafilah dapat meloloskan diri terus lari dan melapor kepada Sultan apa yang telah terjadi. Sultan sangat marah terhadap pencabulan gencatan senjata itu dan mengirim utusan ke Jarussalem agar semua sandra dilepaskan, tetapi mereka tidak memberi jawaban. buntut dari kejadian ini Sultan keluar dari istana dan membawa pasukannya untuk menghukum kaum salib yang sering menghianati janji itu. Terjadilah pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan perang Hittin.
     Dalam pertempuran ini, Shalahuddin menang besar, pasukan musuh yang berjumlah 45.000 orang hancur binasa dan hanya tinggal beberapa ribu saja yang sebaigian besarnya menjadi tawanan termasuk Count Rainald de Chatillon sendiri, semuanya diangkut ke Damaskus. Count Rainald yang telah menawan saudara perempuan sultan dan menertawakan Nabi Muhammad itu digiring ke depan beliau.

"Nah, bagaimana  jadinya, apa yang kau lihat sekarang? apakah saya tidak cukup menjadi pengganti Nabi Muhammad untuk melakukan pembalasan terhadap berbagai penghinaan kamu itu?" tanya sultan Shalahuddin.
   
Kembali kepangkuan Kaum Muslimin
     setelah melalui bebrbagai peperangan dan menaklukan berbagai benteng dan kota, sampailah Sultan Shalahuddin pada tujuan utamanya yaitu merebut Baitul Maqdis. Kini beliau mengepung Jarussalem selama empat puluh hari membuat penduduk di dalam kota tidak bisa berbuat apa-apa dan kekurangan keperluan sehari hari. Waktu itu Jarussalem dipenuhi dengan kaum pelarian dan orang-orang yang selamat dalam perang Hittin. tentara perahananya sendiri tidak kurang dari 60.000 orang.
     Pada mulanya sultan menyerukan seruan agar kota suci itu diserahkan secara damai. Beliau tidak ingin bertindak seperti yang dilakukan oleh Godfrey dan orang-orang pada tahun 1099 untuk membalas dendam. Akan tetapi pihak Kristian telah menolak tawaran baik dari Sultan, bahkan mereka mengaangkat komandan perang untuk mempertahankan kota itu. Karena mereka menolak seruan, Sultan Salahuddin pun bersumpah akan membunuh semua orang kristian di dalam kota itu sebagai membalas dendam ke atas peristiwa 90 tahun yang lalu. Mulailah pasukan kaum Muslimin melancarkan serangan ke atas kota itu dengan anak panah dan manjanik.
     Kaum salib membalas serangan itu dari dalam benteng. Setelah serangan berlangsung selama empat belas hari, kaum salib melihat bahwa pintu benteng hampir musnah oleh serangan kaum muslimin. Para pemimpin kaum salib mulai merasa takut melihat kegigihan dan kekuatan pasukan Muslimin yang hanya tinggal menunggu waktu untuk menerobos masuk. beberapa pemimpin telah keluar untuk menemui Sultan menyatakan hasratnya untuk meyerahkan kota suci secara aman dan meminta agar nyawa mereka di selamatkan.
     Akan tetapi Sultan menolak sambil berkata " Aku tidak akan menanklukan kota ini kecuali dengan kekerasan sebagaimana kamu dahulu menaklukannya dengan kekerasan. Aku tidak akan membiarkan seorang kristian pun melainkan akan kubunuh sebagai mana engkau membunuh kaum Muslimin di dalam kota ini dahulu".
     Setelah usaha diplomatik mereka tidak berhasil, pimpinan kota Jarussalem sendiri datang menghadap Sultan dengan merendah diri dan minta dikasihani, memujuk, merayu dengan segala cara. Sultan Salahuddin tidak menjawabnya.
     Akhirnya ketua kristian itu berkata " Jika tuan tidak mau berdamai dengan kami, kami akan balik dan membunuh semua tahanan( terdiri dari kaum Muslimin sebanyak 4000 orang) yang da pada kami. kami juga akan membunuh anak cucu kami dan perempuan-perempuan kami. setelah itu kami akan binasakan  rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang indah-indah , semua harta yang ada pada kami akan dibakar. Kami juga akan memusnahkan Kubah Shahra'. Kami akan menghancurkan semua yang ada sehingga tidak ada yang bisa di manfaatkan lagi, setelah itu kami akan keluar untuk berperang mati-matian, karena kami sudah tidak ada apa-ap lagi yang boleh diharapkan setelah ini. tidak seorang pun boleh membunuh kami sehingga sebilangan orang-orang tuan terbunuh terlebih dahulu, Nah jika demikian keadaannya, kebaikan apalagi yang tuan boleh harapkan?
     Setelah mendengar kata-kata nekat dan ancaman itu, Sultan Salahuddin menjadi lembut dan kasihan dan bersedia untuk memberikan keamanan. Beliau meminta nasihat para ulama yang mendampinginya mengenai sumpah berat yang telah diucapkannya. Para ulama mengatakan bahwa beliau harus menebus sumpahnya dengan membayar kifarat sebagaimana yang telah di syariatkan.
     Maka berlangsunglah penyerahan kota secara aman dengan syarat setiap penduduk mesti membayar uang tebusan. Bagi lelaki wajib membayar sepuluh dinar, perempuan lima dinar, anak-anak dua dinar. Barang siapa tidak mampu membayar tebusan, maka akan menjadi tawanan kaum Muslimin dan berkedudukan sebagai hamba. semua rumah, senjata dan alat peperangan lainnya harus di tinggalkan untuk kaum muslimin. Mereka boleh pergi ketempat yang mereka anggap aman. mereka diberi tempo selama 40 hari untuk melaksanakan syarat-syaratnya dan barang siapa yang tidak sanggup menunaikannya sehingga lewat dari waktu itu ia akan menjadi tawanan. dan ternyata 16000 orang kristian tidak sanggup membayar uang tebusan. semuanya di tahan sebagai hamba.
     Maka pada hari jumat 27 Rajab 582 Hijriah, Sultan Shalahuddin bersama kaum Muslim memasuki Baitul Maqdis dengan melaungkan "Allahu Akbar" dan bersyukur kehadirat Allah S.W.T air mata bahagia menetes disetiap pipi kaum muslim setelah mereka berada di dalam kota itu. Para ulama datang mengucapkan selamat kepada Sultan Shalahuddin atas perjuangannya yang telah berhasil. Apalagi tanggal tersebut bersamaan dengan Isra Nabi Muhammad S.A.W dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, pada hari jum'at tersebut kaum muslim tidak sempat melaksanakan sholat jum'at di Masjidil Aqsa karena sempitnya waktu mereka terpaksa membersihkan masjid suci itu dari babi, kayu-kayu salib gambar gambar rohib dan patung patung yang di sembah oleh kaum kristian. barulah pada jum'at berikutnya mereka melaksanakan solat jum'at di Masjidil Aqsa untuk pertama kalinya dalam waktu 92 tahun. Kadi muhyiddin bin Muhammmad bin Ali bin Zaki telah bertindak selaku Khatib atas izin Sultan Shalahuddin.
     Jatuhnya Jarussalem membuat bangsa Eropa marah. mereka melancarkan kutipan "Saladin tithe", yakni sumbangan wajib untuk melawan Shalahuddin yang hasilnya digunakan untuk membiayai perang salib. Dengan angkatan perang yang besar, beberapa orang raja Eropa berangkat untuk merebut kota suci itu kembali. Maka terjadilah perang salib yang ke tiga yang sangat sengit, namun demikian, shalahuddin dapat mempertahankan Jarussalem hingga perang tamat. Setahun setelah perang salib yang ke tiga itu terjadi, Sultan Shalahudin pulang kerahmatullah. semoga Allah melimpahkan Rahmat ke atasnya Amin...

Minggu, 11 Desember 2011

Meredam Amarah & Stres dengan Berdoa

     Orang bisa marah atas sebab apa saja seperti mendapat kritikan, ada komentar yang tidak baik atau masalah dalam kehidupan sosial. Jika mengalaminya cobalah berdoa, karna studi menemukan doa bisa mengurangi amarah.
     Studi baru yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Serikat dan Belanda menunjukan Bahwa berdoa dapat membantu meredakan kemarahan, menurunkan sifat agresif dan mengurangi dampak dari provokasi. Brad Bushman, seorang profesor komunikasi komunikasi dan psikologi dari Ohio state University dan juga penulis penelitian mengungkapkan bahwa orang sering beralih kepada ketika ia merasakan emosi negatif, termasuk marah. "Kami menemukan bahwa doa bisa membantu seorang mengatasi kemarahannya, kemungkinan dengan membantunya mengubah cara pandang dalam melihat suatu peristiwa yang membuatnya emosional," ujar Bushman.
     Dalam peneliian yang hasilnya di publikasikan secara online di Personality and Social Psyhcology Bulletin menemukan bahwa berdoa dapat membantu seseorang mengontrol kemarahannya, terlepas dari apapun agama dan tingkat keimanannya. "Dampak yang kami temukan dalam percobaan ini cukup besar, hasilnya menunjukan doa benar-benar bisa menjadi cara yang efektif untuk menenangkan kemarahan dan agresi," ujar Bushman. Ketika seseorang menghadapi kemarahannya mungkin bisa mempertimbangkan nasihat lama untuk berdoa dibandingkan memikirkan musuhnya. Hali ini akan membantu seseorang mengatasi emosi negatifnya. Saat berdoa biasanya orang akan lebih tenang dan bernapas dengan teratur, kondisi ini bisa membuat seseorang menjadi lebih rileks sehingga bisa mengendalikan amarahnya. Ketka kemarahan muncul, maka otot-otot menjadi tegang dan otak melepaskan zat kimia yang dapat meledakan energi. Kondisi ini memicu jantung berdetak lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, nafas menjadi cepat,aliran darah menigkat ke lengan, kaki dan wajah yang membuatnya menjadi memerah.
     Pada beberapa orang tertentu kemarahan yang muncul seringkali diikuti dengan rasa sakit kepala baik tension headache (sakit kepala seperti ada yang mengikat kepala dengan ketat) atau migrain (hanya terjadi di sebagian kepala saja) yang disebabkan oleh perubahan fsikologis yang terjadi di dalam tubuh.