MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN
· MODEL PEMBELAJARAN
LANDASAN
Proses pemebelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis serta peserta didik.
(Peraturan Pemerintah No.19/2005 pasal 19)
Guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran secara spesifik. Penguasaan model pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran.
· PENGERTIAN
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan khas oleh guru di kelas.
Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik dengan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran.
· MODEL PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF
(Drs. H.Muhamad Ali, Guru dalam proses belajar mengajar)
ü Tidak ada model pembelajaran yang paling efektif untuk semua mata pelajaran untuk semua materi.
ü Pemilihan model pembelajaran untuk diterapkan guru di dalam kelas mempertimbangkan beberapa hal :
· Tujuan pembelajaran
· Sifat materi pembelajaran
· Ketersediaan fasilitas
· Kondisi peserta didik
· Alokasi waktu yang tersedia.
CIRI MODEL PEMBELAJARAN YANG BAIK.
· Adanya keterlibatan intelektual – emosional peserta didik melalui kegiatan mengalami, menganalisa, berbuat, dan pembentukan sikap.
· Adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama pelaksanaan model pembelajaran.
· Guru bertindak sebagai fasilitator, koordinator, mediator dan motivator kegiatan belajar peserta didik.
· Pengunaan berbagai metode, alat dan media pembelajaran.
MODEL – MODEL PEMBELAJARAN
A. MODEL COOPERATIVE LEARNING
Berikut ini model pembelajaran yang dapat mewakili model model cooperative learning:
A. Student teams achievement division (STAD)
Langkah langkah:
ü Membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang.
ü Guru menyajikan materi pembelajaran.
ü Guru memberikan tugas untuk dikerjakan, anggota kelompok yang mengetahui jawabanya memberikan penjelasan kepada anggota kelompok.
ü Guru membeerikan pertanyaan/kuis dan siswa menjawab pertanyaan/kuis dengan tidak saling membantu.
ü Pembahasaan kuis.
ü Kesimpulan.
B. Jigsaw (model tim ahli) (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, and Snap. 1979)
Langkah-langkah:
ü Siswa dikelompokan dengan anggota ± 4 orang.
ü Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda.
ü Anggota dari tim yang berbeda dalam penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
ü Setelah kelompok ahli berdiskusi tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbag yang mereka kuasai.
ü Tiap tim ahli mempersentasikan hasil diskusi
ü Pembahasan
ü Penutup.
C. Group investigations go a round
Langkah-langkah:
ü Membagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari ± 5 siswa.
ü Memberikan pertanyaan terbuak yang bersifat analitis
ü Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalm kurun waktu yang disepakati.
D. Think pair and share
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan inti materi.
ü Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.
ü Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukaan hasil diskusinya
ü Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada materi/permasalahan yang belum di ungkapkan siswa.
ü Kesimpulan.
E. Make a match ( Membuat pasangan)
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan beberapa yang berisi beberapa konsep/topic yang cocok untuk sesi review ( satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawabaan )
ü Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang di pegang.
ü Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya ( kartu soal/kartu jawaban)
ü Siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
ü Setelah satu babak kartu di kocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
ü Kesimpulan.
F. Cooperatif Scrift ( Dansereau CS, 1985)
Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bargantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
ü Guru membagi siswa untuk berpasangan.
ü Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk di baca dan mambuat ringkasan.
ü Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
ü Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak/mengoreksi/menunjukan ide-ide pokok yang kurang lengkap. Membatu mengingat/ menghafal ide-ide pokok dengan menhubungkan materi sebelumnya dengan materi yang lainnya.
ü Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti di atas.
ü Menyimpulkan bersama guru.
ü Penutup.
G. Cooperatif Integratif reading and Composition (CIRC) (Steven & Slavin, 1995) KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS
Langkah-langkah:
ü Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
ü Guru memberikan wacana/kliping sesuai denga topik pembelajaran
ü Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan tulis pada lembar kertas
ü Mempersentasikan mambacakan hasil kelompok
ü Guru membuat kesimpulan bersama.
ü Penutup
H. NUMBERED HEADS TOGETHER (Kepala bernomor. Spenser Kagan 1992)
Langkah-langkah:
ü Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor
ü Guru memberikan tugas dan masing- masing kelompok mengerjakannya.
ü Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kolompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
ü Guru memanggil salah satu nomor peserta didik. Dan peserta didik yang nomornya di panggil melaporkan hasil kerjasama diskusi di kelompoknya
ü Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomer yang lain dst.
ü Kesimpulan
I. EXAMPLES NON EXAMPLES
Contoh dapat dari kasus gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
ü Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
ü Guru menempelkan gambar di depan atau di tayangkan dengan OHP
ü Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis gambar analisa
ü Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut di catat pada kertas
ü Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik. Guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin di capai.
ü Kesimpulan.
J. PICTURE AND PICTURE
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
ü Manyampaikan materi sebagai pengantar
ü Guru menunjukan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi.
ü Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
ü Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
ü Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/ materi sesuai dengan kompetensi yang ingin di capai
ü Kesimpulan/rangkuman
K. PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI)
Langkah-langkah:
ü Guru menjelaskan kompetensi yang akan di capai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
ü Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal. Dll)
ü Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai eksperimen untuk mendapatkan penjelasan, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah.
ü Guru membantu peserta didik dalam merencanakan/menyiapkan karyayang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
ü Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
L. ARTIKULASI
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
ü Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
ü Untuk mengetahui daya serap peserta didik, dibentuklah kelompok berpasangan dua orang
ü Menugaskan salah satu peserta didik dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasanngannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok yang lainnya.
ü Menugaskan peserta didik secara bergiliran/diacak menyampaikan penjelasan teman pasangannnya. Sampai peserta didik sudah menyampaikan penjelsannya
ü Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami peserta didik,
ü Kesimpulan/penutup
M. MIND MAPPING
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
ü Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang aka di tanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
ü Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
ü Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
ü Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengeleompokan sesuaikebutuhan guru
ü Dari data-data peserta didik diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru
N. MAKE A MATCH (Mencari pasangan, Lorna Curran 1994)
Langkah-langkah:
ü Guru menyipakan kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainya kartu jawaban
ü Setiap peserta didik mendapat satu kartu
ü Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari karu yang dipegang
ü Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
ü Setiap peserta didik yang dapat mencocokan sebelum batas waktu diberikan point
ü Setelah satu babak kartu di kocok kembali agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
ü Demikian seterusnya
ü Kesimpulan/penutup
O. THINK PAIR AND SHARE (Frank Lyman, 1985)
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin di capai
ü Peserta didik diminta berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
ü Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil masing-masing
ü Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
ü Berawal dari kegiatan tersebut, guru mengarahkan pembicaraan pada pokok perasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan pada peserta didik
ü Guru memberikan kesimpulan
ü Penutup
P. DEBATE
Langkah-langkah:
ü Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang satu kontra
ü Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan di debatkan oleh kedua kelompok di atas
ü Setelah selesai membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok di atas.
ü Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian di tanggapi oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik bisa mengemukakan pendapatnya.
ü Sementara peserta didik menyampaikan gagasannya. Guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaran sampai mendapatkan sejumlah ode yang diharapkan
ü Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap.
ü Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak peserta didik membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yangingi di capai.
Q. ROLE PLAYING
Langkah-langkah:
ü Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan di tampilkan
ü Menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM
ü Guru membentuk kelompok peserta didik yang anggotanya 5 orang
ü Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin di capai
ü Memanggil peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan sekenario yang sudah dipersiapkan
ü Masing-masing peserta didik berada dalam kelompoknya sambil mengamati sekenario yang sedang di peragakan
ü Setelah selesai di tampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing masing kelompok
ü Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
ü Guru memberikan kesimpulan secara umum.
ü Evaluasi
ü Penutup
R. GROUP INVESTIGASION (SHARAN, 1992)
Langkah-langkah:
ü Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
ü Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
ü Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas suatu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain.
ü Masing-masing kelompok mambahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan
ü Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok
ü Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
ü Evaluasi
ü Penutup
S. TALKING STICK
Langkah-langkah:
ü Guru menyiapkan sebuah tongkat
ü Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi.
ü Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya peserta didik menutup bukunya.
ü Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
ü Guru memberikan kesimpulan
ü Evaluasi
ü Penutup
T. SNOWBALL THROWING
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan materi yang akan di sajikan
ü Giri membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
ü Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudain menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
ü Masing-masing peserta didik diberi satu lembar kertas untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang manyakut materi yang sudah di jelaskan oleh ketua kelompok
ü Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan di lempar dari satu peserta didik yang lain selama ± 15 menit
ü Setelah peserta didik mendapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mejawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
ü Penutup
U. STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan kompetensi yang ingin di capai
ü Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
ü Memberikan kesempatan peserta didik untuk menjelaskan kepada peserta didik lainya. Misalnya melaui sebuah bagan/peta konsep
ü Guru menyimpulkan ide/pendapat dari peserta didik
ü Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu
ü Penutup
V. COURS REVIEW HORAY
Langkah-langkah:
ü Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
ü Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
ü Memberikan kesempatan peserta didik tanya jawab
ü Untuk menguji pemahaman, peserta didik disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak di isi angka sesuai dengan selera msing masing peserta didik
ü Guru membaca soal secara acak dan peserta didik menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung di diskusikan kalau benar di isi dengan tanda ( v )dan yang salah diberi tanda ( x )
ü Peserta didik yang sudah memberi tanda vertikal atau horizontal atau diagonal harus berteriak horay....atau yel yel yang lainnya.
ü Nilai peserta didik dihitung dari jawaban yang benar jumlah horay yang diperoleh.
ü Penutup
W. EXPLICIT INTRUCTIONS PEMBELAJARAN LANGSUNG (Rosen Shina & Stevens, 1986)
Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan cara belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan dklaratif yang dapat di ajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.
Langkah –langkah:
ü Menyampaikan tujuan
ü Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
ü Membimbing pelatihan
ü Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
ü Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan
X. INSIDE-OUTSIDE-CYRCLE (Lingkaran kecil lingkaran besar)
(Spenser Kagan)
Peserta didik saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur
Langkah-langkah:
ü Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
ü Separuh kelas lainya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama menghadap kedalam
ü Dua orang peserta didik yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagai informasi. pertukaran informasi ini bisa di lakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan
ü Kemudian peserta didik yang berada di lingkaran kecil diam di tempat sementara peserta didik yang berada dilingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam.
ü Sekarang giliran peserta didik yang berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya.
B. PENDEKATAN PEMBELAJARAN
1. KONTRUKTIVISME
Pandangan Tentang Belajar Menurut Teori Kontruktivisme
Teori belajar kontruktivisme menyatakan bahwa siswa harus membangun pengetahuan di dalam benak mereka sendiri. Setiap pengetahuan atau kemampuan hanya bisa diperoleh atau dikuasai oleh sesorang apabila orang itu secara aktif mengkonstruksi pengetahuan atau kemampuan itu didalam pikirannya.
Kontruktivisme menerangkan bahwa bagaimana pengetahuan tersusun dalam diri manusia. Menurut faham kontruktivisme, peserta didik harus membangun suatu pengetahuan ini berdasarkan pengalamannya masing-masing
Pembelajaran adalah hasil usaha peserta didik itu sendiri dan guru sebagai mitra belajar untuk peserta didik.
Pembelajaran adalah interpretasi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya.
Pembelajaran merupakan suatu proses aktif yang dibina dari pengalaman seseorang. Pembinaan terhadap suatu pengalaman dilakukan dari suatu pengalaman dilakukan dari pernyataan perspektif secara kolaboratif (konstuktivisme kognitf dan konstruktivisme sosial). Pembelaaran dibina dalam situasi nyata. Siswa tidak hanya dibekali fakta-fakta, melainkan diarahkan pada kemampuan penguasaan dalam proses berpikir dalam berkomunikasi
2. PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Tujuan komponen CTL:
ü Kontruktivisme
- Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal
- Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
ü Inquiri
- Proses perpindahan deari pengamatan menjadi pemahaman
- Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
ü Queationing
- Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa
- Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis Inquiri
ü Learning community
- Sekelompok orang yang terkait dalam kegiatan belajar
- Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
- Tukar pengalaman
- Berbagi ide
ü Modeling
- Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berfikir, bekerja dan belajar
- Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
ü Reflection
- Cara berfikir tentang apa yang telah kita pelajari
- Mencatat apa yang telah dipelajari
- Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
ü Authentic Assessment
- Mengukur pengetahuan siswa dan keterampilan siswa
- Penilaian produk
- Tugas-tugas yang relevan dan konstektual
Menurut Erman Suherman (2003, h .10) model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam pembelajaran konstektual diantaranya adalah:
a) Pembelajaran Langsung (Direct Intractions, DI)
b) Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)
c) Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruksional, PBI)
d) Pembelajaran Problem Terbuka (Open Ended)
e) Model SAVI ( Somatic, Auditory, Visuality, Intellectualy)
3. RME ( Realistic Mathematic Educations)
a) Karakteristik Pembelajaran matematika realistik
PMR memiliki lima karakteristik, yaitu:
- The use of context (mengunakan masalah kontekstual)
- The used model (mengunakan berbagai model)
- Student contributions (konstribusi siswa)
- Interactivity (interaktivitas) dan
- Intertwining (terintegrasi). Penjelasan secara singkat dari kelima karakteristik tersebut secara singkat dari kelima karakteristik tersebut, secara singkat adalah sebagai berikut:
a) Memahami masalah konstektual, yaitu guru memberikan masalah konstektual dalam kehidupan sehari hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
b) Menjelaskan masalah konstektual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum di pahami.
c) Menyelesaikan masalah konstektual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah konstektual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban berbeda lebih diutamakan. Dengan mengunakan lembar kerja siswa siswa mengerjakan soal, guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
d) Membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara kelompok. Siswa dilatih mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran
e) Menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur. Berdasarkan prinsip dan karakteristik PMR serta dengan memperhatikan pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah disusun suatu langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMR yang digunakan dalam penelitian ini.
4. INQUIRY
Menurut David L. Haury dalam (Trianto, 2007:135) inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Lima fase pendekatan pembelajaran dengan pendekatan inquiry, yaitu:
a) Fase 1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan tantangan untuk diteliti
b) Fase 2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat husus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi
c) Fase 3 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis sehingga diperoleh hubungan sebab akibat.
d) Fase 4 :Merumuskan penemuan inquiry hingga diperoleh penjelasan, pernyataan, atau prinsip yang lebih formal
e) Fase 5 : melakukan analisis tehadap proses inquiry, strategi yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah dalam mencari sebab akibat.
5. DISCOVERY (PENEMUAN TERBIMBING)
Langkah-langkah pendekatan Discovery
a) Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, yang dinyatakan dengan pertanyaan pertanyaan
b) Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melakukan kegiatan. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
c) Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju. Melalui pertanyaan pertanyaan atau LKS.
d) Kegiatan metode penemuan oleh para siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
e) Siswa menyusun konjektur (Prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya
f) Bila dipandang perlu, konjektur yang telah di buat oleh siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru.
g) Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan
h) Setelah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar
i) Perlu dikembangkan pertanyaan-pertayaan yang bersifat terbuka, yang mengarahkan pada kegiatan yang dilakukan siswa
j) Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau takberjalan sebagai mestinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar